Selasa, 03 April 2018

Struktur komunitas keanekaragaman biota air di air danau selais (Ekoogi Perairan)


STRUKTUR KOMUNITAS KEANEKARAGAMAN  BIOTA AIR DI DANAU SELAIS UNIVERSITAS RIAU
Indah Susilawati
E-mail: indah.susilawati@Student.unri.ac.id, Phone: +62852-6521-0643

Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA
Universitas Riau 28293

ABSTRAK

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui kualitas fisika-kimia danau selais terhadap keberlangsungan hidup biota air. Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Alam Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau pada Tanggal 11 Maret 2018. Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode eksperimen dan observasi langsung. Alat dan bahan yang digunakan adalah plankton net, peterson, botol koleksi, plastik sampel, formalin, lugol, pipet tetes, ember, saringan benthos bola  pimpong, benang/tali, DO-meter, PH-meter dan alat tulis. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkam bahwa keanekaragaman biota air pada perairan danau selais sangat bervariasi dimana terdapat 1.242 indeks keanekaragaman (H’) plankton 1.561 indeks keanekaragaman (H’) Benthos hal ini menunjukkan bahwa komunitas danau selais memiliki indeks keanekaragaman spesies yang tinggi.


Keywords : Air, Biota air, Danau, Komunitas.
 


PENDAHULUAN

Komunitas merupakan kumpulan dari berbagai macam jenis organisme dan ukuran populasi yang hidup dalam habitat tertentu. Komunitas merupakan satu kesatuan yang terorganisir dengan komponen-komponen individu dan fungsi metabolisme yang berdampingan dengan ekosistem. Keragaman spesies yang tinggi menunjukan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas tinggi, karena dalam komunitas itu terjadi interaksi spesies yang tinggi pula dan melibatkan transfer energi (jaring makanan), predasi, kompetisi dan pembagian relung). Dalam siklus hidupnya, ikan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan perairan karena ikan memiliki pola adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan fisik maupun kimia (Azmi.2015).
Air adalah zat yang keberadaanya sangat dibutuhkan oleh semua organisme. Karakteristik air meliputi faktor fisika, kimia dan biologis yang sangat berpengaruh terhadap kualitas air. Kualitas air tidak terbatas  pada karakteristik air, tetapi lebih dinamis yang merupakan hasil dari proses faktor-faktor lingkungan dan proses biologi. Oleh karena itu untuk menghasilkan kualitas air yang baik maka perlu ada kegiatan monitoring yang rutin. Kebutuhan kualitas air tiap spesies berbeda bahkan dalam setiap tahap perubahan dalam satu siklus hidup dalam satu spesies. Sehingga kondisi air media harus diuji terlebih dahulu sebelum membuat keputusan dan mengambil tindakan selanjutnya. Oleh karena itu setiap pembudidayaan harus memahami hal-hal penting yang perlu mendapat perhatian ketika akan dan sedang melakukan budidaya (Maniagasi et.al, 2013).
Danau adalah wilayah yang digenangi badan air sepanjang tahun yang terbentuk secara alami karena gerakan kulit bumi sehingga bentuk dan ukurannya bervariasi. Danau saat ini bisa digunakan sebagai tempat rekreasi, sumber pembangkit tenaga listrik (PLTA), sumber utama pengairan bagi usaha pertanian dan juga sebagai tempat pembudidaya ikan (Walandow,1997).

METODOLOGI PENELITIAN
     Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode eksperimen dan observasi langsung yang dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2018 di danau selais Universitas Riau. Alat dan bahan yang digunakan adalah plankton net, peterson, botol koleksi, plastik sampel, formalin, lugol, pipet tetes, ember, saringan benthos bola  pimpong, benang/tali, DO-meter, PH-meter dan alat tulis. Selanjutnya, hasil pencuplikan biota hewan (plankton dan bentos) diidentifikasi di Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau pada tanggal 16 Maret 2018. Alat dan bahan yang digunakan dalam identifikasi adalah hasil pencuplikan  biota hewan (plankton dan bentos), aquades, botol koleksi, mikroskop, lup, object glass , cover glass, pipet tetes, dan buku identifikasi plankton dan  bentos.
Pencuplikan plankton menggunakan plankton net dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) diambil air dari danau selais sebanyak 18 liter dengan menggunakan ember dan disaring dalam plankton net (2) air nya dibiarkan mengalir sendiri sampai air nya tersisa pada botol penghimpun (3) Buka botol penghimpun dari Plankton net, (4) Air di dalam botol penghimpun dituang ke dalam botol cuplikan, (5) Botol cuplikan yang berisi air tersebut ditetesi dengan lugol sebanyak 3-5 tetes agar plankton di dalam botol cuplikan awet dan tidak rusak, (6) Setelah itu ditutup rapat dan dihomogenkan, lalu botol koleksi diberi label, (6) Cuplikan planton yang sudah diberi lugol dapat disimpan lama hingga waktu  pengerjaan identifikasi, (7) Identifikasi plankton dilakukan di laboratorium dengan menggunakan mikroskop. Sebelum diidentifikasi, air yang berada didalam  botol koleksi dihomogenkan agar populasi plankton tersebar merata, kemudian sampel diambil dengan menggunakan pipet tetes sebanyak 0,05 ml dari 25 ml secara acak agar kesempatan terambilnya plankton sama. Selanjutnya dilakukan pengamatan dengan mikroskop.
Sedangkan pencuplikan bentos dengan menggunakan peterson adalah: (1) Peterson dibuka dengan hati-hati, sementara tali beserta logam  pemacunya dipegang, pencuplik itu diturunkan secara vertikal ke dasar perairan dengan perlahan-lahan, (2) Setelah menyentuh dasar, logam pemacunya dilepas meluncur sepanjang jala yang terentang lurus. Logam itu akan menyebabkan kedua belahan pengeruk menutup dan substrat perairan berikut semua hewan  bentos yang ditumpahkan ke dalam benjana atau kantong plastik. Kemudian, tetesi formalin ke dalam kantong plastik yang telah berisi cuplikan tersebut, (3) Identifikasi bentos dilakukan dengan cara membilas sebagian demi sebagian isi kerukan tersebut dengan air sekaligus disaring. Semua hewan (sampai ukuran terkecil) dikumpulkan kedalam suatu wadah dan diberi label. Setelah hewan-hewan diidentifikasi dan dihitung akan didapatkan informasi kualitatif maupun kuantitatif (kerapatan) mengenai hewan-hewan bentos perairan yang diteliti. Parameter yang diamati dalam pengukuran faktor fisika kimia lingkungan adalah suhu, pH, salinitas, DO. Sedangkan parameter  biologi (plankton dan bentos) adalah komposisi jenis, kepadatan/kelimpahan, indeks keanekaragaman, dominansi jenis, komposisi jenis dan kemerataan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      Pengukuan Faktor Fisika dan Kimia
Tabel 1. Hasil pengukuran faktor fisika dan kimia
Parameter
Stasiun Pengamatan

I
II
III
IV
V
VI
VII
Fisika







Suhu (oC)
28,8
29,4
29,5
29,4
29,6
29,4
29,6
Kecerahan (m)
0,92
0,48
0,48
0,50
0,50
0,79
0,79
Kedalaman (m)
2
2
2
2
2
2
2
Kimia







pH
7,85
7,85
7,8
6,43
7,38
6,4
6,99
DO (mg/L)
4
2,9
2,7
2,5
2,9
2,9
2,5

Suhu perairan pada ketujuh stasiun pengambilan contoh berkisar 28-29oC dengan suhu terendah terdapat di stasiun 1 dan suhu tertinggi pada stasiun V dan VII. Suhu pada tujuh stasiun tersebut relatif sama, tidak mengalami fluktuasi secara berlebihan, karena keadaan cuaca pada saat pengukuran suhu relatif sama, sehingga suhu tidak mengalami perubahan. Variasi suhu tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan waktu dan pengaruh lebatnya vegetasi tumbuh-tumbuhan di sekitar perairan tersebut diduga menghalangi penetrasi sinar matahari yang masuk kedalam perairan. Dari hasil pengamatan, nilai kisaran suhu keempat stasiun tersebut masih tergolong dalam kisaran suhu normal dan masih layak bagi organisme perairan. Berdasarkan Effendi (2003), kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan nekton di perairan adalah 20- 30 oC.
Nilai pH di Perairan Danau Kampus Binawidya Universitas Riau selama penelitian berkisar antara 6-7.85. Menurut Effendi (2003), kisaran nilai tersebut termasuk dalam perairan alami.  Berdasarkan hasil pengamatan, nilai pH yang didapat tidak menunjukkan perbedaan yang cukup besar. Kisaran pH tersebut menurut Effendi (2003) masih berada pada kisaran nilai yang baik untuk kehidupan biota perairan. Organisme air dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH dengan kisaran toleransi antara asam lemah sampai basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air. Pada umumnya terdapat antara 7 sampai 8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi (Barus, 2002). Dikaitkan dengan pH yang ada pada lokasi Penelitian maka pH yang ditunjukan sangat cocok, ideal bagi keberlangsungan organisme (ikan) yang akan dibudidayakan.
Kadar DO yang baik bagi pertumbuhan ikan adalah diatas 5 mg/l. Nilai DO terendah terdapat pada stasiun VII yang diduga oleh banyaknya rawa dan juga vegetasi tumbuhan serta merupakan outlet. Berdasrkan Siagian (2009) kandungan oksigen sangat berperan di dalam menentukan kelangsungan hidup organisme perairan. Okigen dalam hal ini diperlukan organisme akuatik untuk mengoksidasi nutrien yang masuk ke dalam tubuhnya.

2.      Pengukuran Faktor Biologi
Tabel 2. Hasil pengamatan pencuplikan plankton
Parameter
Stasiun Pengamatan
I
II
III
IV
V
VI
VII
Jumlah Individu
6
7
35
15
6
8
13
Kelimpahan (F)
 433,13
505,31 
2526,57
1082,81
 433,13
 577,5
 938,44
Indeks Keanekaragaman (H’)
1,242
0,999
0,934
1,402
0
0,9
0,429
Dominansi Jenis (C)
0,33
0,31
0,6
0,28
1
0,47
0,74
Komposisi Jenis (Pi)
 0,07
0,08 
0,4
0,167 
 0,067
 0,089
0,14 
Kemerataan (E)
0,896
0,721
0,48
0,871
0
0,819
0,619

Perolehan Plankton tertinggi pada stasiun III dikarenakan pada stasiun tersebut waktu pengambilan sampel pada pagi hari sangat pas. Stasiun ini sendiri memiliki kisarahan suhu, ph yang normal Hal ini sesuai dengan Barus (2002) yang menyatakan bahwa organisme akuatik dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah sampai basah lemah. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi.

Tabel.3 Hasil Pengamatan Pencuplikan Benthos
Parameter
Stasiun Pengamatan
I
II
III
IV
V
VI
VII
Jumlah Individu
2
1
2
3
6
3
8
Kepadatan (K)
2222.22
1111.11
2222.22
3333.33
6666.67
3333,33
8888,88
Indeks Keanekaragaman
0
0
0
1.099
1.561
0.637
0.377
Dominansi Jenis (C)
1
1
1
0.33
0.22
0.56
0.78
Komposisi Jenis (Pi)
0.08
0.04
0.08
0.12
0.24
0.12
0.32
Kemerataan (E)
0
0
0
1
0.97
0.918
0.544

Berdasarkan Tabel.3  Menunjukkan nilai indeks keanekaragaman (H’), kemerataan (E), dan dominansi (C) benthos. Nilai  H’ tertinggi berada pada stasiun V dan terendah pada stasiun 1,2 dan 3. Hal ini diduga adanya variasi dari jumlah spesies yang tetangkap tiap stasiun menurut Brower dkk. (1990) menyatakan bahwa suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman spesies yang tinggi apabila terdapat banyak spesies dengan jumlah individu masing-masing spesies relatif merata. Dengan kata lain bahwa apabila suatu komunitas hanya terdiri dari sedikit spesies dengan jumlah individu yang tidak merata, maka komunitas tersebut mempunyai keanekaragaman rendah.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkam bahwa keanekaragaman biota air pada perairan danau selais sangat bervariasi dimana terdapat 1.242 indeks keanekaragaman (H’) plankton 1.561 indeks keanekaragaman (H’) Benthos hal ini menunjukkan bahwa komunitas danau selais memiliki indeks keanekaragaman spesies yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Azmi,Nurul.et.al.2015.Struktur Komunitas Nekton di Danau Pondok Lapan Desa Naman Jahe Kecamatan Salapian Kabupaten Langkat (Community Structure of Nekton in Pondok Lapan Lake’s Desa Naman Jahe Kecamatan Salapian Kabupaten Langkat North Sumatera).Universitas Sumatera Utara.
Barus, T.A., 2002. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia,
Jakarta.
Brower, J.E.,J.H.Zar dan C.N.Von Ende. 1990. Field and Laboratory Methods For General Ecology. 3nd ed. W.M.C. Brown Publisers, USA.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Periaran. Kanisius: Yogyakarta
Maniagasi, Richard., Sipriana S. Tumembouw dan Yoppy Mundeng.2013. Analisis kualitas fisika kimia air di areal budiday a ikan Danau Tondano Provinsi Sulawesi Utara. Budidaya Perairan, 1 (20) : 29-37
Siagian, C. 2009. Keanekaragaman Dan Kelimpahan Ikan Serta Keterkaitannya Dengan Kualitas Perairan Di Danau Toba Baliga Sumatera Utara. Prog
Walandow, L. O. W. 1997. Beberapa Parameter Fisika, Kimia dan Biologi Danau Linou. Skripsi. FPIK. Unsrat. Manado. 37 hal.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar