STRUKTUR KOMUNITAS KEANEKARAGAMAN BIOTA AIR DI DANAU SELAIS UNIVERSITAS RIAU
Indah Susilawati
E-mail:
indah.susilawati@Student.unri.ac.id, Phone: +62852-6521-0643
Program Studi
Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA
Universitas Riau
28293
ABSTRAK
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui kualitas fisika-kimia danau selais terhadap
keberlangsungan hidup biota air. Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Alam Program
Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau pada Tanggal 11 Maret 2018. Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode eksperimen dan
observasi langsung. Alat dan bahan yang digunakan adalah plankton
net, peterson, botol koleksi, plastik sampel, formalin, lugol, pipet tetes, ember, saringan benthos bola pimpong,
benang/tali, DO-meter, PH-meter dan alat tulis.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkam bahwa keanekaragaman
biota air pada perairan danau selais sangat bervariasi dimana terdapat 1.242
indeks keanekaragaman (H’) plankton 1.561 indeks keanekaragaman (H’) Benthos
hal ini menunjukkan bahwa komunitas danau selais memiliki indeks keanekaragaman
spesies yang tinggi.
Keywords : Air,
Biota air, Danau, Komunitas.
PENDAHULUAN
Komunitas merupakan
kumpulan dari berbagai macam jenis organisme dan ukuran populasi yang hidup
dalam habitat tertentu. Komunitas merupakan satu kesatuan yang terorganisir
dengan komponen-komponen individu dan fungsi metabolisme yang berdampingan
dengan ekosistem. Keragaman spesies yang tinggi menunjukan bahwa suatu
komunitas memiliki kompleksitas tinggi, karena dalam komunitas itu terjadi
interaksi spesies yang tinggi pula dan melibatkan transfer energi (jaring
makanan), predasi, kompetisi dan pembagian relung). Dalam siklus hidupnya, ikan
sangat rentan terhadap perubahan lingkungan perairan karena ikan memiliki pola
adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan fisik maupun kimia (Azmi.2015).
Air adalah zat yang keberadaanya sangat dibutuhkan oleh
semua organisme. Karakteristik air meliputi faktor fisika, kimia dan biologis
yang sangat berpengaruh terhadap kualitas air. Kualitas air tidak terbatas pada karakteristik air, tetapi lebih dinamis
yang merupakan hasil dari proses faktor-faktor lingkungan dan proses biologi.
Oleh karena itu untuk menghasilkan kualitas air yang baik maka perlu ada
kegiatan monitoring yang rutin. Kebutuhan kualitas air tiap spesies berbeda
bahkan dalam setiap tahap perubahan dalam satu siklus hidup dalam satu spesies.
Sehingga kondisi air media harus diuji terlebih dahulu sebelum membuat
keputusan dan mengambil tindakan selanjutnya. Oleh karena itu setiap
pembudidayaan harus memahami hal-hal penting yang perlu mendapat perhatian
ketika akan dan sedang melakukan budidaya (Maniagasi et.al, 2013).
Danau adalah wilayah yang digenangi badan air sepanjang tahun yang
terbentuk secara alami karena gerakan kulit bumi sehingga bentuk dan ukurannya
bervariasi. Danau saat ini bisa digunakan sebagai tempat rekreasi, sumber
pembangkit tenaga listrik (PLTA), sumber utama pengairan bagi usaha pertanian
dan juga sebagai tempat pembudidaya ikan (Walandow,1997).
METODOLOGI
PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode eksperimen dan
observasi langsung yang dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2018 di
danau selais Universitas Riau. Alat
dan bahan yang digunakan adalah plankton net, peterson, botol koleksi, plastik sampel, formalin, lugol, pipet tetes, ember, saringan benthos bola pimpong, benang/tali, DO-meter, PH-meter dan alat tulis.
Selanjutnya, hasil pencuplikan biota hewan (plankton dan bentos) diidentifikasi
di Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau pada tanggal 16 Maret 2018. Alat dan bahan yang digunakan dalam identifikasi adalah
hasil pencuplikan biota hewan (plankton dan bentos), aquades, botol koleksi, mikroskop, lup, object glass , cover glass, pipet tetes,
dan buku identifikasi plankton dan bentos.
Pencuplikan
plankton menggunakan plankton net dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
(1) diambil air dari danau selais sebanyak 18 liter dengan menggunakan ember
dan disaring dalam plankton net (2) air nya dibiarkan mengalir sendiri sampai
air nya tersisa pada botol penghimpun (3) Buka botol penghimpun dari Plankton
net, (4) Air di dalam botol penghimpun dituang ke dalam botol cuplikan, (5) Botol
cuplikan yang berisi air tersebut ditetesi dengan lugol sebanyak 3-5 tetes agar
plankton di dalam botol cuplikan awet dan tidak rusak, (6) Setelah itu ditutup
rapat dan dihomogenkan, lalu botol koleksi diberi label, (6) Cuplikan planton
yang sudah diberi lugol dapat disimpan lama hingga waktu pengerjaan
identifikasi, (7) Identifikasi plankton dilakukan di laboratorium dengan
menggunakan mikroskop. Sebelum diidentifikasi, air yang berada didalam
botol koleksi dihomogenkan agar populasi plankton tersebar merata,
kemudian sampel diambil dengan menggunakan pipet tetes sebanyak 0,05 ml dari 25
ml secara acak agar kesempatan terambilnya plankton sama. Selanjutnya dilakukan
pengamatan dengan mikroskop.
Sedangkan
pencuplikan bentos dengan menggunakan peterson
adalah: (1) Peterson
dibuka dengan hati-hati, sementara tali beserta logam pemacunya dipegang,
pencuplik itu diturunkan secara vertikal ke dasar perairan dengan
perlahan-lahan, (2) Setelah menyentuh dasar, logam pemacunya dilepas meluncur
sepanjang jala yang terentang lurus. Logam itu akan menyebabkan kedua belahan
pengeruk menutup dan substrat perairan berikut semua hewan bentos yang
ditumpahkan ke dalam benjana atau kantong plastik. Kemudian, tetesi formalin
ke dalam kantong plastik yang telah berisi cuplikan tersebut, (3) Identifikasi
bentos dilakukan dengan cara membilas sebagian demi sebagian isi kerukan
tersebut dengan air sekaligus disaring. Semua hewan (sampai ukuran terkecil)
dikumpulkan kedalam suatu wadah dan diberi label. Setelah hewan-hewan
diidentifikasi dan dihitung akan didapatkan informasi kualitatif maupun
kuantitatif (kerapatan) mengenai hewan-hewan bentos perairan yang diteliti.
Parameter yang diamati dalam pengukuran faktor fisika kimia lingkungan adalah suhu, pH, salinitas, DO.
Sedangkan parameter biologi (plankton dan bentos) adalah komposisi jenis,
kepadatan/kelimpahan, indeks keanekaragaman, dominansi jenis, komposisi jenis
dan kemerataan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pengukuan
Faktor Fisika dan Kimia
Tabel 1. Hasil pengukuran faktor fisika dan kimia
Parameter
|
Stasiun Pengamatan
|
||||||
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
VI
|
VII
|
|
Fisika
|
|||||||
Suhu (oC)
|
28,8
|
29,4
|
29,5
|
29,4
|
29,6
|
29,4
|
29,6
|
Kecerahan (m)
|
0,92
|
0,48
|
0,48
|
0,50
|
0,50
|
0,79
|
0,79
|
Kedalaman (m)
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
Kimia
|
|||||||
pH
|
7,85
|
7,85
|
7,8
|
6,43
|
7,38
|
6,4
|
6,99
|
DO (mg/L)
|
4
|
2,9
|
2,7
|
2,5
|
2,9
|
2,9
|
2,5
|
Suhu
perairan pada ketujuh stasiun pengambilan contoh berkisar 28-29oC
dengan suhu terendah terdapat di stasiun 1 dan suhu tertinggi pada stasiun V
dan VII. Suhu pada tujuh stasiun tersebut relatif sama, tidak mengalami
fluktuasi secara berlebihan, karena keadaan cuaca pada saat pengukuran suhu
relatif sama, sehingga suhu tidak mengalami perubahan. Variasi suhu tersebut
disebabkan oleh adanya perbedaan waktu dan pengaruh lebatnya vegetasi
tumbuh-tumbuhan di sekitar perairan tersebut diduga menghalangi penetrasi sinar
matahari yang masuk kedalam perairan. Dari hasil pengamatan, nilai kisaran suhu
keempat stasiun tersebut masih tergolong dalam kisaran suhu normal dan masih
layak bagi organisme perairan. Berdasarkan Effendi (2003), kisaran suhu optimum
bagi pertumbuhan nekton di perairan adalah 20- 30 oC.
Nilai pH di Perairan Danau
Kampus Binawidya Universitas Riau selama penelitian berkisar antara 6-7.85.
Menurut Effendi (2003), kisaran nilai tersebut termasuk dalam perairan
alami. Berdasarkan hasil pengamatan, nilai pH yang didapat tidak
menunjukkan perbedaan yang cukup besar. Kisaran pH tersebut menurut Effendi
(2003) masih berada pada kisaran nilai yang baik untuk kehidupan biota
perairan. Organisme air
dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH dengan kisaran
toleransi antara asam lemah sampai basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi
kehidupan organisme air. Pada umumnya terdapat antara 7 sampai 8,5. Kondisi
perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan
kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan
metabolisme dan respirasi (Barus, 2002). Dikaitkan dengan pH yang ada pada lokasi
Penelitian maka pH yang ditunjukan sangat cocok, ideal bagi keberlangsungan
organisme (ikan) yang akan dibudidayakan.
Kadar
DO yang baik bagi pertumbuhan ikan adalah diatas 5 mg/l. Nilai DO terendah
terdapat pada stasiun VII yang diduga oleh banyaknya rawa dan juga vegetasi
tumbuhan serta merupakan outlet. Berdasrkan Siagian (2009) kandungan oksigen
sangat berperan di dalam menentukan kelangsungan hidup organisme perairan.
Okigen dalam hal ini diperlukan organisme akuatik untuk mengoksidasi nutrien
yang masuk ke dalam tubuhnya.
2. Pengukuran
Faktor Biologi
Tabel
2. Hasil pengamatan pencuplikan plankton
Parameter
|
Stasiun Pengamatan
|
||||||
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
VI
|
VII
|
|
Jumlah Individu
|
6
|
7
|
35
|
15
|
6
|
8
|
13
|
Kelimpahan (F)
|
433,13
|
505,31
|
2526,57
|
1082,81
|
433,13
|
577,5
|
938,44
|
Indeks Keanekaragaman
(H’)
|
1,242
|
0,999
|
0,934
|
1,402
|
0
|
0,9
|
0,429
|
Dominansi Jenis (C)
|
0,33
|
0,31
|
0,6
|
0,28
|
1
|
0,47
|
0,74
|
Komposisi Jenis (Pi)
|
0,07
|
0,08
|
0,4
|
0,167
|
0,067
|
0,089
|
0,14
|
Kemerataan (E)
|
0,896
|
0,721
|
0,48
|
0,871
|
0
|
0,819
|
0,619
|
Perolehan Plankton
tertinggi pada stasiun III dikarenakan pada stasiun tersebut waktu pengambilan
sampel pada pagi hari sangat pas. Stasiun ini sendiri memiliki kisarahan suhu,
ph yang normal Hal ini sesuai dengan Barus (2002) yang menyatakan bahwa
organisme akuatik dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH
netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah sampai basah lemah. Kondisi
perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan
kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan
metabolisme dan respirasi.
Tabel.3 Hasil Pengamatan Pencuplikan Benthos
Parameter
|
Stasiun Pengamatan
|
||||||
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
VI
|
VII
|
|
Jumlah
Individu
|
2
|
1
|
2
|
3
|
6
|
3
|
8
|
Kepadatan
(K)
|
2222.22
|
1111.11
|
2222.22
|
3333.33
|
6666.67
|
3333,33
|
8888,88
|
Indeks
Keanekaragaman
|
0
|
0
|
0
|
1.099
|
1.561
|
0.637
|
0.377
|
Dominansi
Jenis (C)
|
1
|
1
|
1
|
0.33
|
0.22
|
0.56
|
0.78
|
Komposisi
Jenis (Pi)
|
0.08
|
0.04
|
0.08
|
0.12
|
0.24
|
0.12
|
0.32
|
Kemerataan
(E)
|
0
|
0
|
0
|
1
|
0.97
|
0.918
|
0.544
|
Berdasarkan
Tabel.3 Menunjukkan nilai indeks
keanekaragaman (H’), kemerataan (E), dan dominansi (C) benthos. Nilai H’ tertinggi berada pada stasiun V dan
terendah pada stasiun 1,2 dan 3. Hal ini diduga adanya variasi dari jumlah
spesies yang tetangkap tiap stasiun menurut Brower dkk. (1990) menyatakan bahwa
suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman spesies yang tinggi apabila
terdapat banyak spesies dengan jumlah individu masing-masing spesies relatif merata.
Dengan kata lain bahwa apabila suatu komunitas hanya terdiri dari sedikit
spesies dengan jumlah individu yang tidak merata, maka komunitas tersebut
mempunyai keanekaragaman rendah.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah
dilakukan dapat disimpulkam bahwa keanekaragaman biota air pada
perairan danau selais sangat bervariasi dimana terdapat 1.242 indeks
keanekaragaman (H’) plankton 1.561 indeks keanekaragaman (H’) Benthos hal ini
menunjukkan bahwa komunitas danau selais memiliki indeks keanekaragaman spesies
yang tinggi.
DAFTAR
PUSTAKA
Azmi,Nurul.et.al.2015.Struktur
Komunitas Nekton di Danau Pondok Lapan Desa Naman Jahe Kecamatan Salapian
Kabupaten Langkat (Community Structure of Nekton in Pondok Lapan Lake’s Desa
Naman Jahe Kecamatan Salapian Kabupaten Langkat North Sumatera).Universitas Sumatera Utara.
Barus,
T.A., 2002. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia,
Jakarta.
Jakarta.
Brower, J.E.,J.H.Zar dan C.N.Von
Ende. 1990. Field and Laboratory Methods For General Ecology. 3nd ed. W.M.C.
Brown Publisers, USA.
Effendi,
H. 2003. Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan
Periaran. Kanisius: Yogyakarta
Maniagasi,
Richard., Sipriana S. Tumembouw dan Yoppy Mundeng.2013. Analisis kualitas
fisika kimia air di areal budiday a ikan Danau Tondano Provinsi Sulawesi Utara.
Budidaya Perairan, 1 (20) : 29-37
Siagian, C. 2009. Keanekaragaman
Dan Kelimpahan Ikan Serta Keterkaitannya Dengan Kualitas Perairan Di Danau Toba
Baliga Sumatera Utara. Prog
Walandow,
L. O. W. 1997. Beberapa Parameter Fisika, Kimia dan Biologi Danau Linou.
Skripsi. FPIK. Unsrat. Manado. 37 hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar